Rabu, 23 Januari 2013

Bukti Mukjizat Nabi Muhammad SAW Membelah Bulan


“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan“.(Q.S. 54:1)

Klaim pihak NASA : “bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali”
apa dapat sebab lekuk panjang di bulan ?penemuan pertama ditemukan 200 tahun yang lalu dengan sebuah teleskop kecil , rilles nampak seperti bulan tiga yang berjenisan rilles sekarang dikenali dengan istilah: berliku-liku rilles , yang mana banyak tikungan kelok-kelok , arcuate rilles yang mana bentuk busur melingkar , dan rilles yang lurs ,.seperti Ariadaeus sungai kecil yang diatas digambar . panjang rilles seperti Ariadaeus sungai kecilyang panjangnya ratusan kilometer . rilles yang berliku-liku dijabarka sebagai sisa-sisa aliran lahar kuno , tetapi origin arcuate dan linier rilles masih topik riset . sungai kecil linier yang diatas dipotret oleh Apollo 10 awak kapal pada tahun 169 dalam perjalanan bersejarah yang mereka adakan mereka hanya berada sekitar 14-kilometers diatas permukaan lunar . dua bulan , Apollo 11 , pengetahuan banyak diperoleh dari Apollo 10 , yang pernah mendarat di bulan
penelitian mereka diatas,menunjukkan pengetahuan bahwa bulan membentuk suatu garis panjang seperti sungai yang meliuk.
KISAH NABI MUHAMMAD MEMBELAH BULAN
Dalam Bukhari dan Muslim, juga dalam kitab2 hadits yang terkenal lainnya, diriwayatkan bahwa sebelum Rasulullah (saw) hijrah, berkumpullah tokoh2 kafir Quraiy, seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah dan Al ‘Ash bin Qail.
Mereka meminta kepada nabi Muhammad (saw) untuk membelah bulan. Kata mereka, “Seandainya kamu benar2 seorang nabi, maka belahlah bulan menjadi dua.”
Rasulullah (saw) berkata kepada mereka, “Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?”
Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah (saw) berdoa kepada Allah agar bulan terbelah menjadi dua. Rasulullah (saw) memberi isyarat dengan jarinya, maka bulanpun terbelah menjadi dua. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap orang kafir yang hadir, Rasulullah (saw) berkata, “Hai Fulan, bersaksilah kamu. Hai Fulan, bersaksilah kamu.”
Demikian jauh jarak belahan bulan itu sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Akan tetapi orang2 kafir yang hadir berkata, “Ini sihir!” padahal semua orang yang hadir menyaksikan pembelahan bulan tersebut dengan seksama. Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada di tempat itu. Lalu mereka pun menunggu orang2 yang akan pulang dari perjalanan.
Orang2 Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, orang2 musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah
menjadi dua dan saling menjauh masing2-nya kemudian bersatu kembali…”
Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir ingkar).
Atas peristiwa ini Allah SWT menurunkan ayat Al Qur’an: “Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda2 kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap… (QS. Al Qomar 54:1-2)
dan inilah yang dulu menyebabkan ketua Al-Hizb Al-Islamy Daud Musa Pitkhok masuk ke agama ISLAM..
KISAH DAUD MUSA PITKHOK
Setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdirilah seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris.Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?”
Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab:”Dipersilahkan dengan senang hati.”
Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya:
“Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…….”
Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah-lah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.
Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi hangat antara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun ceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke
antariksa.Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar.
Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata,”Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?”
Mereka pun menjawab, “Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri,maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun”.
Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya?”
Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!”
Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?”
Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.
Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan,”Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun ang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!!”.Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … (aku pun bergumam),”Maka,aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar,dan… saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

Sabtu, 19 Januari 2013

Memberi Tanpa Pamrih



Kalau ada satu kata indah di antara kata indah lainnya, kata indah itu adalah “tulus”. Lawan katanya adalah pamrih. Sama dengan kata “jujur” kata ketulusan sama-sama kata yang lebih banyak berada di buku-buku cerita atau dongeng pengantar tidur. Kata yang nyaris punah karena semakin langka orang yang menyematkan ketulusan dalam setiap perbuatannya.

Saya sendiri sulit menilai, tidak berani, apakah semua yang saya katakan dan lakukan sepanjang hidup ini telah berbingkai ketulusan. Karena merasa jerih, kadang masih saja ada kekecewaan yang tiba-tiba menyeruak tatkala saya tak mendapatkan apa-apa dari yang saya perbuat. Mengeluh, mengumpat, bahkan bersumpah atas nama Allah atas ketidakadilan yang saya terima. Padahal, siapa suruh saya berharap kepada manusia? Atau, mungkinkah saya tak lagi dapat membingkai semua pekerjaan saya dalam ketulusan, sehingga apapun yang saya lakukan mesti berbuah keuntungan?

Ketulusan sering diibaratkan sebagai kertas putih. Ketulusan itu sesuatu yang hadir begitu saja, tanpa pretensi atau kepentingan apa pun untuk melakukan sesuatu. Ia seperti mata air yang mengalir dari kedalaman hati dengan sendirinya. Ia bening adanya.

Bening berati tidak berwarna. Dari sudut pandang tradisi spiritual, ia bebas dari merah, jingga, kuning, dan bahkan putih; warna-warna yang menyimbolkan nafsu amarah, nafsu kepemilikan, nafsu kepada lawan jenis, sampai nafsu yang sebetulnya paling ilahiah, yakni nafsu untuk mengumpulkan sebanyak mungkin nilai kebenaran. Bening dapat diwarnai oleh apa saja, tetapi ia juga menghadirkan semua warna seperti adanya.

Seperti halnya air bening yang selalu menjadi tujuan dahaga yang sangat, ketulusan juga menjadi dambaan jiwa yang kering. Ketulusan, siapa sangka, adalah harta yang esensial. Mungkin seseorang akan bahagia dengan memiliki uang, pangkat, atau jabatan. Tetapi, bahagia karena uang, pangkat, atau kedudukan itu baru kemungkinan. Bahagia karena ketulusan adalah kepastian.

Hadirnya ketulusan dalam hati, mengisyaratkan kondisi hati yang sederhana. Sederhana dari pretensi, kepentingan, atau hasil apa pun selain nikmatnya merasakan ketulusan itu saja, yang mengalir begitu saja. Nikmat itu membuat orang yang sedang tulus menjadi “trans” berpindah, hilang ingatan, lupa bahwa di ujung amal perbuatannya yang tulus, ada hasil lain yang layak ditagih olehnya selain sejuknya ketulusan itu sendiri.

Uniknya, di sinilah agaknya keadilan Allah hadir dengan feminin, lembut; tidak dengan berwibawa dan bermuatan ancaman atau hukuman, tetapi dengan bersahaja, bertaburkan keindahan dan keharuan. Kehadiran keadilan Allah seperti ini membuat sesuatu yang sederhana menjadi tidak sederhana: menjadi bermakna, dan abadi dalam ingatan.

Seperti kisah sahabat saya beberapa waktu lalu. Ia berdiri menunggu bus di halte, seperti biasa. Kepalanya dipenuhi oleh agenda program pekerjaan dan pemikiran yang harus diselesaikannya, seperti biasa. Yang tidak biasa adalah ketika seorang perempuan tua, yang mungkin lupa banyaknya uang yang telah disimpan di dompetnya, kehabisan uang dan mengulurkan tangan kepadanya: meminta. Teman saya itu sebetulnya orang yang paling berhati-hati untuk menyambut “peminta-minta”. Tetapi, ketulusan tiba-tiba memabukkannya sehingga ia sodorkan sepuluh ribu rupiah dari dompetnya, begitu saja. Lalu, karena sedang “mabuk” tentu saja ia lupa. Esoknya, ia baru sadar sesuatu yang abadi baru saja menyapanya dengan begitu nyata ketika di trotoar, selembar uang sepuluh ribu tak bertuan tersangkut di sepatunya, menjadi miliknya.

Seorang sahabat saya yang lain, juga punya pengalaman serupa. Isterinya, menawarkan dua buah sepeda bekas kepada tukang sampah langganan. “Dijual harganya nggak seberapa, lebih baik diberikan kepada yang membutuhkan. Semoga lebih ada nilainya,” timbang isterinya.

Si tukang sampah tak menampik. Belum beranjak tukang sampah itu dari rumah, isterinya teringat belum mengeluarkan sedekah bulan tersebut. Ia berikan sekalian ke tukang sampah. Haru dan nyaris tak sanggup membendung bulir air yang siap tumpah dari pelupuk mata ketika sang isteri mendengar ungkapan menggetarkan dari tukang sampah. “Alhamdulillah”, makan anak dan isteri dua Jumat ke depan terjamin nih, Bu, terima kasih. Jumat yang berkah buat saya, semoga hari ini keberkahan juga untuk ibu sekeluarga,” tuturnya berdoa. Uang tak seberapa, bagi orang lain, ternyata memberi jaminan hidup dua pekan!

Sore harinya, ketika teman saya mengambil tabungan di ATM, saldo tabungannya bertambah hampir enam kali dari yang pagi tadi dikeluarkan isterinya. Rupanya Jumat itu tidak hanya berkah bagi bapak tukang sampah, tapi juga keluarga sahabat saya. Mungkinkah Allah menjawab doa tukang sampah tersebut? Hanya Allah yang tahu.

Anda, masing-masing kita, saya yakin punya pengalaman pribadi tentang laku ketulusan itu. Ketulusan yang mengalir begitu saja, lantas menghadir-kan balasan yang manis. Minhaitsu laa-yahtasib, dari arah yang tiada disangka-sangka.

 Subhanallah, ketulusan itu sebetulnya sudah mengalir deras, tidak ada habisnya, dari balik tanah, bebantuan, dan hati Anda. Sudahkah Anda rasakan nikmatnya? Tak inginkah Anda mendapatkannya?

Senyum Adalah Sedekah

Assalaamu'alaikum warohmatulloh wabarokaatuh.

SubhanAllah, semoga sahabatku selaiu dalam kenikmatan taat...aamiin. 
Sahabatku, ketahuilah tanda yg tampak terlihat pertama seorang mu'min setelah ucapan salamnya adalah "Attabassum" MURAH SEN
YUMNYA, Rasulullah bersabda," Senyummu pada saudaramu adalah sedekah", dalam kesempatan lain beliau berwasiat, "Jangan sekali-kali kalian meremehkan suatu kebaikan, walau hanya berupa keceriaan wajah ketika kalian bertemu dengan sahabat kalian" (HR Muslim), & beliau juga mengingatkan kepada "Al abuus", "Orang yang bermuka masam & tidak membuat orang lain gembira adalah orang yang tidak memiliki nilai kebaikan disisi ALLAH". Indahkan ISLAM itu sahabatku, itulah yang membuat kita bahagia ber-ISLAM, karena orang beriman itu SANGAT BAHAGIA dengan KEISLAMANNYA & terpancar selalu pada wajahnya, "a litlle thing but i never forgot you, couse yours smile", SUBHANALLAH, Senyumlah...senyumlah...senyumlah seperti RASULULLAH, sahabatku.

Wassalamu'alaik um warohmatullohi wabarokatuh

Mohon dibagikan
sahabatku,janga n biarkan pahala berhenti dikita saja..

RASULULLAH bersabda, "Barang siapa
yang mengajak kepada petunjuk ALLAH, maka
baginya ada pahala yang sama dengan pahala
orang yang
mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun
juga dari pahala-pahala mereka".HR Muslim

Bolehkah Menambahkan Kata "Sayyidina" Sebelum Nama Nabi Muhammad SAW, Ahlul Bait dan Wali-Wali Allah ?

Nabi Muhammad SAW adalah sayyid (penguhulu/pemimpin) seluruh makhluk. Hal ini berdasarkan ijma' seluruh kaum muslimin. Nabi SAW sendiri telah menjelaskan hal itu dalam sabda beliau,
 
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ
"Saya adalah sayyid (penghulu) anak Adam."
 
Dalam riwayat lain,
 
أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ
"Saya adalah sayyid (penghulu) manusia." (Muttafaq alaih).
 
Di dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menghormati dan mengagungkan beliau. Alalh SWT berfirman :
 
 
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
 
"Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang." (QS. Al-Fath : 8-9).
 
Salah satu bentuk penghormatan dan pengagungan ini adalah dengan menyebutnya sebagai sayyid. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Qatadah dan Suddi, "Makna tuwaqqirûhu (memuliakannya) adalah tusawwidûhu (mensayyidkannya/ memuliakannya)."
 
Para sahabat juga telah menggunakan kata ini dalam perbincangan mereka. Diriwayatkan dari Sahl bin Hunaif radliyallahu 'anh., dia berkata, "Pada suatu hari kami melewati suatu aliran air. Saya lalu menceburkan diri ke dalamnya dan mandi di sana. Ketika selesai saya terkena demam. Keadaan saya itu lalu diceritakan kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda,
 
((مُرُوْا أَبَا ثَابِتٍ يَتَعَوَّذُ))، قُلْتُ: يَا سَيِّدِي وَالرُّقَى صَالِحَةٌ؟ قَالَ: ((لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ فِيْ نَفْسٍ أَوْ حُمَةٍ أَوْ لَدْغَةٍ))
"Suruhlah Abu Tsabit untuk berta'awudz." Lalu saya bertanya kepada beliau, "Wahai Sayyidi, apakah ruqyah itu bermanfaat?" Beliau menjawab, "Tidak boleh melakukan ruqyah kecuali karena 'ain, sengatan hewan beracun dan sengatan kalajengking." (HR. Ahmad dan Hakim. Hakim berkata, "Sanadnya shahih").
 
Para sahabat juga menggunakan kata "sayyid" ini dalam lafal salawat yang mereka ucapkan. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radliyallahu 'anh., dia berkata,
 
إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وآله وسلم فَأَحْسِنُوا الصَّلاَةَ عَلَيْهِ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ، فَقَالُوا لَهُ: فَعَلِّمْنَا، قَالَ: قُولُوا: «اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلاَتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ، وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ، وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ، مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، إِمَامِ الْخَيْرِ، وَقَائِدِ الْخَيْرِ، وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ
"Jika kalian mengucapkan salawat kepada Rasulullah saw. maka gunakanlah kata-kata yang baik. Karena kalian tidak tahu mungkin saja salawat itu dihadapkan kepada beliau." Para murid Ibnu Mas'ud lalu berkata, "Kalau begitu ajarilah kami kata-kata yang tepat untuk bersalawat." Ibnu Mas'ud menjawab, "Katakanlah, 'Ya Allah, jadikanlah salawat-Mu, rahmat-Mu dan keberkahan-Mu untuk sayyid (penghulu) para Rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa dan penutup para nabi, Muhammad, hamba-Mu dan rasul-Mu, pemimpin kebaikan, panglima kebaikan, rasul pembawa rahmat,..." (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Mundziri).
 
Riwayat yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Umar radliyalahu 'anhumaa oleh Ahmad bin Mani' dalam musnadnya, dan dia menghukuminya sebagai hadis hasan dengan syawâhidnya (penguat-penguatnya).
 
Adapun penyebutan kata sayyid untuk para makhluk yang lain selain Nabi SAW,, maka hal itu juga disyariatkan berdasarkan nash Alquran, Sunnah dan perbuatan umat secara terus menerus tanpa ada pengingkaran terhadapnya. Dalam Alquran, penjelasan mengenai hal ini disebutkan dalam firman Allah terkait Nabi Yahya 'Alayhissalam :
 
 
فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ
"Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh." (QS. Âli 'Imrân : 39).
 
Imam Qurthubi berkata, "Ayat ini menjelaskan kebolehan penamaan seseorang dengan kata sayyid, sebagaimana kebolehan pemberian nama seseorang dengan aziz atau karim."
 
Disebutkan juga dalam Alquran,
 
وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ
"Kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu". (QS. Yûsuf: 25).
 
Sedangkan dalam Sunnah, Nabi SAW. pernah bersabda mengenai Hasan dan Husein radhiyallahu 'anhumâ,
 
الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Hasan dan Husein adalah sayyid (penghulu) para pemuda surga." (HR. Tirmidzi dan Hakim. Keduanya menshahihkan hadis ini).
 
Rasulullah SAW juga pernah bersabda mengenai Hasan bin Ali,
 
إِنَّ ابْنِيْ هَذَا سَيِّدٌ
"Sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid." (HR. Bukhari).
 
Juga sabda Rasulullah SAW kepada Fatimah a.s.,
 
يَا فَاطِمَةُ أَلاَ تَرْضَيْنَ أَنْ تَكُوْنِي سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ
"Wahai Fatimah, apakah kamu tidak rela untuk menjadi sayyidah (penghulu) para wanita surga." (HR. Bukhari).
 
Sabda beliau mengenai Saad bin Muadz radliyallahu 'anh.,
 
قُومُوْا إِلَى سَيِّدِكُمْ
"Sambutlah sayyid (pemimpin) kalian." (HR. Bukhari).
 
Rasulullah SAW juga pernah bersabda kepada Bani Salamah,
 
((مَنْ سَيِّدُكُمْ يا بَنِي سَلمة؟)) قالوْا: سَيِّدُنا جَدُّ بْنُ قَيْسٍ، عَلَى أَنَّا نُبَخِّلُهُ، قال: ((وَأَيُّ دَاءٍ أَدْوَى مِنَ الْبُخْلِ؟ بَلْ سَيِّدُكم عَمْرُو بْنُ الجَمُوْحِ))
"Siapakah sayyid (pemimpin) kalian, wahai Bani Salamah?" Mereka menjawab, "Sayyid kami adalah Jadd bin Qais. Hanya saja kami menganggapnya sebagai orang yang pelit." Beliau berkata, "Penyakit mana yang lebih merusak dari pelit? Yang tepat, sayyid kalian adalah 'Amr bin Jamuh." (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).
 
Dalam riwayat lain,
 
سَيِّدُكُمْ بِشْرُ بْنُ الْبَرَاءِ بْنِ مَعْرُوْرٍ
"Sayyid kalian adalah Bisyr bin Barra` bin Ma'rur." (HR. Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabîr).
 
Dan masih banyak lagi dalil yang menyebutkan mengenai kebolehan menyebut sayyid kepada para makhluk.
 
Adapun perbuatan umat yang terus menerus, misalnya adalah ucapan Umar Al-Faruq (Umar bin Khaththab) mengenai Abu Bakar dan Bilal,
 
أَبُو بَكْرٍ سَيِّدُنَا وَأَعْتَقَ سَيِّدَنَا
"Abu Bakar adalah sayyid kami dan telah memerdekakan sayyid kami." (HR. Bukhari).
 
Juga perkataan Ali mengenai anaknya, Hasan,
 
إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ كَمَا سَمَّاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وآله وسلم
"Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw." (HR. Abu Dawud).
 
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa dia berkata kepada Hasan bin Ali,
 
يَا سَيِّدِي، فقيل له: تقول يا سيدي؟! قال: إني سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقول: إِنَّهُ لَسَيِّدٌ
"Wahai sayyidku." Lalu seseorang bertanya padanya, "Kamu mengatakan, 'Wahai sayyidku?' Abu Hurairah menjawab, "Saya mendengar Rasulullah saw. mengatakan bahwa dia adalah sayyid." (HR. Nasa`i dalam 'Amal al-Yaum wal-Lailah).
 
Penyebutan-penyebutan ini dengan tanpa adanya pengingkaran dari para sahabat yang lain menjadi ijmak sukuti. Dan ijma' sukuti itu adalah salah satu dalil syara', sebagaimana dijelaskan dalam ilmu Ushul Fikih. Sejak zaman dahulu, umat Islam telah terbiasa memberi gelar sayyid kepada para keluarga Nabi saw. (ahlul bait) yang berasal dari keturunan Hasan dan Husein a.s.  Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a, dia berkata,
 
ما رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنـًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ
"Sesuatu yang menurut kaum muslimin adalah perbuatan baik, maka menurut Allah itu adalah baik. Dan sesuatu yang menurut kaum muslimin adalah perbuatan jelek, maka menurut Allah itu adalah jelek." (HR. Ahmad).
 
Dengan demikian, penyebutan kata sayyid kepada para ahlul bait dan para wali Allah adalah perbuatan yang disyariatkan, bahkan dianjurkan karena mengandung sikap sopan santun, penghormatan dan pemuliaan terhadap mereka. Nabi saw. pernah bersabda,
 
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih kecil serta mengetahui hak ulama." (HR. Ahmad dan Hakim serta dia shahihkan dari Ubadah bin Shamit r.a.).
 
Wallahu A'lam.
Fatwa Syaikh Al-'Allamah Prof. 'Ali Jumu'ah (Dar Al-Iftaa Al-Mishriyyah)