Nabi
Muhammad SAW adalah sayyid (penguhulu/pemimpin) seluruh makhluk. Hal
ini berdasarkan ijma' seluruh kaum muslimin. Nabi SAW sendiri telah
menjelaskan hal itu dalam sabda beliau,
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ
"Saya adalah sayyid (penghulu) anak Adam."
Dalam riwayat lain,
أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ
"Saya adalah sayyid (penghulu) manusia." (Muttafaq alaih).
Di dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menghormati dan mengagungkan beliau. Alalh SWT berfirman :
إِنَّا
أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً
وَأَصِيلًا
"Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai
saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu
sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya,
membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang."
(QS. Al-Fath : 8-9).
Salah satu bentuk penghormatan dan pengagungan ini adalah dengan
menyebutnya sebagai sayyid. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Qatadah
dan Suddi, "Makna tuwaqqirûhu (memuliakannya) adalah tusawwidûhu (mensayyidkannya/ memuliakannya)."
Para sahabat juga telah menggunakan kata ini dalam perbincangan mereka.
Diriwayatkan dari Sahl bin Hunaif radliyallahu 'anh., dia berkata, "Pada
suatu hari kami melewati suatu aliran air. Saya lalu menceburkan diri
ke dalamnya dan mandi di sana. Ketika selesai saya terkena demam.
Keadaan saya itu lalu diceritakan kepada Rasulullah SAW, maka beliau
bersabda,
((مُرُوْا
أَبَا ثَابِتٍ يَتَعَوَّذُ))، قُلْتُ: يَا سَيِّدِي وَالرُّقَى صَالِحَةٌ؟
قَالَ: ((لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ فِيْ نَفْسٍ أَوْ حُمَةٍ أَوْ لَدْغَةٍ))
"Suruhlah Abu Tsabit untuk berta'awudz."
Lalu saya bertanya kepada beliau, "Wahai Sayyidi, apakah ruqyah itu
bermanfaat?" Beliau menjawab, "Tidak boleh melakukan ruqyah kecuali
karena 'ain, sengatan hewan beracun dan sengatan kalajengking." (HR.
Ahmad dan Hakim. Hakim berkata, "Sanadnya shahih").
Para sahabat juga menggunakan kata "sayyid" ini dalam lafal salawat
yang mereka ucapkan. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radliyallahu 'anh.,
dia berkata,
إِذَا
صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وآله وسلم فَأَحْسِنُوا
الصَّلاَةَ عَلَيْهِ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ
عَلَيْهِ، فَقَالُوا لَهُ: فَعَلِّمْنَا، قَالَ: قُولُوا: «اللَّهُمَّ
اجْعَلْ صَلاَتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ
الْمُرْسَلِينَ، وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ، وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ،
مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، إِمَامِ الْخَيْرِ، وَقَائِدِ الْخَيْرِ،
وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ
"Jika kalian mengucapkan salawat
kepada Rasulullah saw. maka gunakanlah kata-kata yang baik. Karena
kalian tidak tahu mungkin saja salawat itu dihadapkan kepada beliau."
Para murid Ibnu Mas'ud lalu berkata, "Kalau begitu ajarilah kami
kata-kata yang tepat untuk bersalawat." Ibnu Mas'ud menjawab,
"Katakanlah, 'Ya Allah, jadikanlah salawat-Mu, rahmat-Mu dan
keberkahan-Mu untuk sayyid (penghulu) para Rasul, pemimpin orang-orang
yang bertakwa dan penutup para nabi, Muhammad, hamba-Mu dan rasul-Mu,
pemimpin kebaikan, panglima kebaikan, rasul pembawa rahmat,..." (HR.
Ibnu Majah dan dihasankan oleh Mundziri).
Riwayat yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Umar radliyalahu 'anhumaa
oleh Ahmad bin Mani' dalam musnadnya, dan dia menghukuminya sebagai
hadis hasan dengan syawâhidnya (penguat-penguatnya).
Adapun penyebutan kata sayyid untuk para makhluk yang lain selain Nabi
SAW,, maka hal itu juga disyariatkan berdasarkan nash Alquran, Sunnah
dan perbuatan umat secara terus menerus tanpa ada pengingkaran
terhadapnya. Dalam Alquran, penjelasan mengenai hal ini disebutkan dalam
firman Allah terkait Nabi Yahya 'Alayhissalam :
فَنَادَتْهُ
الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ
يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا
وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ
"Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil
Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya),
'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang
putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah,
menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk
keturunan orang-orang saleh." (QS. Âli 'Imrân : 39).
Imam Qurthubi berkata, "Ayat ini menjelaskan kebolehan penamaan
seseorang dengan kata sayyid, sebagaimana kebolehan pemberian nama
seseorang dengan aziz atau karim."
Disebutkan juga dalam Alquran,
وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ
"Kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu". (QS. Yûsuf: 25).
Sedangkan dalam Sunnah, Nabi SAW. pernah bersabda mengenai Hasan dan Husein radhiyallahu 'anhumâ,
الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Hasan dan Husein adalah sayyid (penghulu) para pemuda surga." (HR. Tirmidzi dan Hakim. Keduanya menshahihkan hadis ini).
Rasulullah SAW juga pernah bersabda mengenai Hasan bin Ali,
إِنَّ ابْنِيْ هَذَا سَيِّدٌ
"Sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid." (HR. Bukhari).
Juga sabda Rasulullah SAW kepada Fatimah a.s.,
يَا فَاطِمَةُ أَلاَ تَرْضَيْنَ أَنْ تَكُوْنِي سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ
"Wahai Fatimah, apakah kamu tidak rela untuk menjadi sayyidah (penghulu) para wanita surga." (HR. Bukhari).
Sabda beliau mengenai Saad bin Muadz radliyallahu 'anh.,
قُومُوْا إِلَى سَيِّدِكُمْ
"Sambutlah sayyid (pemimpin) kalian." (HR. Bukhari).
Rasulullah SAW juga pernah bersabda kepada Bani Salamah,
((مَنْ
سَيِّدُكُمْ يا بَنِي سَلمة؟)) قالوْا: سَيِّدُنا جَدُّ بْنُ قَيْسٍ،
عَلَى أَنَّا نُبَخِّلُهُ، قال: ((وَأَيُّ دَاءٍ أَدْوَى مِنَ الْبُخْلِ؟
بَلْ سَيِّدُكم عَمْرُو بْنُ الجَمُوْحِ))
"Siapakah sayyid (pemimpin) kalian, wahai
Bani Salamah?" Mereka menjawab, "Sayyid kami adalah Jadd bin Qais. Hanya
saja kami menganggapnya sebagai orang yang pelit." Beliau berkata,
"Penyakit mana yang lebih merusak dari pelit? Yang tepat, sayyid kalian
adalah 'Amr bin Jamuh." (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).
Dalam riwayat lain,
سَيِّدُكُمْ بِشْرُ بْنُ الْبَرَاءِ بْنِ مَعْرُوْرٍ
"Sayyid kalian adalah Bisyr bin Barra` bin Ma'rur." (HR. Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabîr).
Dan masih banyak lagi dalil yang menyebutkan mengenai kebolehan menyebut sayyid kepada para makhluk.
Adapun perbuatan umat yang terus menerus, misalnya adalah ucapan Umar
Al-Faruq (Umar bin Khaththab) mengenai Abu Bakar dan Bilal,
أَبُو بَكْرٍ سَيِّدُنَا وَأَعْتَقَ سَيِّدَنَا
"Abu Bakar adalah sayyid kami dan telah memerdekakan sayyid kami." (HR. Bukhari).
Juga perkataan Ali mengenai anaknya, Hasan,
إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ كَمَا سَمَّاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وآله وسلم
"Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw." (HR. Abu Dawud).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa dia berkata kepada Hasan bin Ali,
يَا سَيِّدِي، فقيل له: تقول يا سيدي؟! قال: إني سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقول: إِنَّهُ لَسَيِّدٌ
"Wahai sayyidku." Lalu seseorang bertanya
padanya, "Kamu mengatakan, 'Wahai sayyidku?' Abu Hurairah menjawab,
"Saya mendengar Rasulullah saw. mengatakan bahwa dia adalah sayyid."
(HR. Nasa`i dalam 'Amal al-Yaum wal-Lailah).
Penyebutan-penyebutan ini dengan tanpa adanya pengingkaran dari para
sahabat yang lain menjadi ijmak sukuti. Dan ijma' sukuti itu adalah
salah satu dalil syara', sebagaimana dijelaskan dalam ilmu Ushul Fikih.
Sejak zaman dahulu, umat Islam telah terbiasa memberi gelar sayyid
kepada para keluarga Nabi saw. (ahlul bait) yang berasal dari keturunan
Hasan dan Husein a.s. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a, dia berkata,
ما رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنـًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ
"Sesuatu yang menurut kaum muslimin adalah
perbuatan baik, maka menurut Allah itu adalah baik. Dan sesuatu yang
menurut kaum muslimin adalah perbuatan jelek, maka menurut Allah itu
adalah jelek." (HR. Ahmad).
Dengan demikian, penyebutan kata sayyid kepada para ahlul bait dan para
wali Allah adalah perbuatan yang disyariatkan, bahkan dianjurkan karena
mengandung sikap sopan santun, penghormatan dan pemuliaan terhadap
mereka. Nabi saw. pernah bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
"Bukan termasuk golongan kami orang yang
tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih kecil serta
mengetahui hak ulama." (HR. Ahmad dan Hakim serta dia shahihkan dari
Ubadah bin Shamit r.a.).
Wallahu A'lam.
Fatwa Syaikh Al-'Allamah Prof. 'Ali Jumu'ah (Dar Al-Iftaa Al-Mishriyyah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar